Teori interaksi sosial dan analisis tentang mahasiswa
MAKALAH
TEORI INTERAKSI SOSIAL DAN ANALISIS TENTANG MAHASISWA
Mata kuliah : Sosiologi
Dosen Pengampu : Syamsul Bahkri, M.Sos
Disusun oleh:
Muhammad Nafi (3319016)
JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2020
BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Pada dasarnya setiap manusia tidak bisa hidup sendiri, setiap individu akan membutuhkan individu lain dalam kehidupan sehari–hari. Antar individu akan terlibat proses interaksi sosial dalam lingkungannya, baik di rumah, sekolah, tempat kerja dan lain–lain. Interaksi merupakan hal yang paling unik yang muncul pada diri manusia. Jika seorang individu tidak dapat berinteraksi dengan baik maka individu tersebut akan cenderung individualis dan egois sehingga kepekaan dan kepedulian pada lingkungan sekitarnya pun kurang.
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu, antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok. Guru mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung apabila tanpa melalui perantara. Misalnya A dan B bercakap-cakap termasuk contoh Interaksi sosial secara langsung. Sedangkan kalau A titip salam ke C lewat B dan B meneruskan kembali ke A, ini termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.
Rumusan Masalah
Apa itu interaksi sosial dan bagaimana analisis dari fenomena yang terjadi?
Tujuan
Untuk mengetahui tentang interaksi sosial dan analisis fenomena yang terjadi.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain, dimana kelakuan antar individu saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.
Menurut Gillin, interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok, ataupun individu dengan kelompok. Pengertian lainnya dikemukan oleh Macionis, dengan bahasa yang lebih sederhana. Interaksi sosial menurut Macionis adalah proses di mana orang-orang beraksi dan bereaksi satu sama lain dalam suatu relasi atau hubungan.
Terjadinya interaksi sosial karena adanya saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam suatu hubungan sosial. Menurut Roucek dan Warren, interaksi adalah salah satu masalah pokok karena ia merupakan dasar segala proses sosial. Interaksi merupakan proses timbal balik, di mana satu kelompok dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain dengan demikian ia mempengaruhi tingkah laku orang lain. Orang mempengaruhi tingkah laku orang lain melalui kontak. Kontak ini mungkin berlangsung melalui fisik, seperti dalam obrolan, yang di dalam obrolan tersebut terjadi proses mendengarkan, melakukan gerakan pada beberapa bagian badan, melihat dan lain-lain lagi, atau secara tidak langsung melalui tulisan, atau dengan cara berhubungan dari jauh.
Ciri-ciri interaksi sosial
Interaksi sosial memiliki beberapa karakteristik atau ciri-ciri. Berikut adalah ciri-ciri dalam interaksi sosial yaitu: Jumlah pelaku lebih dari satu orang, hal ini karena interaksi membutuhkan aksi dan reaksi. Jika sesorang memberikan suatu aksi atau tindakan, agar dikatakan sebagai bentuk interaksi, tindakan tersebut haruslah direspon oleh orang lain.
Adanya komunikasi menggunakan simbol-simbol tertentu. Simbol yang paling umum digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah simbol yang disampaikan haruslah dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi, agar komunikasi tersebut berjalan lancar.
Dalam interaksi sosial juga ada dimensi waktu, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Artinya dalam setiap interaksi sosial, ada konteks waktu yang menentukan batasan dari interaksi tersebut.
Adanya tujuan yang ingin dicapai. Pihak yang berinteraksi tentulah memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa ada tujuan-tujuan yang berbeda di antara pihak yang berinteraksi. Tujuan tersebut pun dapat menentukan apakah interaksi akan mengarah kepada kerja sama ataupun mengarah kepada pertentangan.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Gillin mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi agar suatu interaksi sosial itu terjadi, yaitu adanya kontak sosial (sosial contact) dan adanya komunikasi (communication).
Kontak sosial
Kontak sosial merupakan tindakan pertama dalam interaksi sosial, meskipun kontak sosial belum mampu membentuk komunikasi yang berkelanjutan. Menurut Soekanto, kontak sosial dapat berlangsung dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu: Kontak sosial antara orang perorang, Kontak sosial antara orang dengan kelompok dan Kontak sosial antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Kontak sosial menurut cara dan tingkatannya terbagi menjadi dua, yaitu kontak sosial primer dan kontak sosial sekunder. Kontak sosial primer adalah kontak sosial yang terjadi secara langsung bertatap muka, misalnya berbicara, saling menyapa, dan bersalaman. Kontak sosial sekunder merupakan kontak sosial yang terjadi melalui suatu perantara. Kontak sosial sekunder pun terbagi menjadi dua, yaitu sekunder langsung dan sekunder tidak langsung. Kontak sosial sekunder langsung terjadi ketika kedua pihak berkontak menggunakan media secara langsung.
Kontak sosial sekunder tidak langsung adalah kontak sosial yang terjadi ketika pihak yang berkontak menggunakan pihak ketiga untuk berinteraksi, atau berinteraksi menggunakan media namun tidak secara langsung berhubungan. Menurut sifat atau bentuknya, kontak sosial terbagi menjadi kontak sosial negatif dan kontak sosial positif. Kontak sosial negatif merupakan kontak sosial yang mengarah ke pertentangan dan merusak hubungan yang telah ada. Kontak sosial positif adalah kontak sosial yang mengarah ke bentuk kerja sama dan memperkuat hubungan yang ada.
Komunikasi
Dalam komunikasi ada tiga unsur penting yang selalu ada, yaitu sumber informasi (source), saluran (channel), dan penerima informasi (receiver). Sumber informasi adalah seseorang atau intitusi yang memiliki bahan informasi (pemberitaan) untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Saluran (channel) yang digunakan, dapat berupa saluran intrapersonal atau pun media massa. Sementara penerima informasi (receiver) adalah perorangan atau kelompok dan masyarakat yang menjadi sasaran informasi atau yang menerima informasi.
Bentuk Interaksi Sosial
Menurut Gillin, terdapat dua bentuk interaksi sosial, yatu proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif merupakan bentuk proses sosial yang mengarah kepada kerja sama antar pihak, sedangkan proses disosiatif merupakan proses sosial yang mengarah kepada pertentangan antara pihak yang terlibat. Proses asosiatif terdiri dari kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Proses disosiatif terdiri dari persaingan, kontravensi, dan konflik.
Bentuk interaksi sosial asosiatif
Bentuk interaksi asosiatif adalah kerjasama, akomodasi, dan asimilasi. Kerjasama ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok bekerjasama bantu membantu untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasama timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lain.
Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, dimana terjadi keseimbangan dalam interaksi antara orang perorangan dan kelompok manusia, sehubungan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
Asimilasi merupakan suatu proses dimana pihak-pihak yang berinteraksi mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan serta tujuan-tujuan kelompok dan merupakan pencampuran dua atau lebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses sosial, kemudian menghasilkan budaya tersendiri yang berbeda dengan budaya asalnya.
Bentuk interaksi disosiatif
Bentuk interaksi disosiatif adalah persaingan, pertentangan, dan kontravensi. Persaingan diartikan sebagai proses sosial, dimana individu atau kelompok-kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang ada pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.
Pertentangan merupakan bentuk interaksi sosial yang berupa perjuangan yang langsung dan sadar antara orang dengan orang atau kelompok dengan kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.
Kontravensi merupakan bentuk interaksi yang berbeda antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan, dan kebencian terhadap kepribadian orang, tetapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial, yaitu faktor imitasi, faktor sugesti, faktor identifikasi, dan faktor simpati. Faktor imitasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat membawa seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku. Imitasi adalah pembentukan nilai melalui dengan meniru cara-cara orang lain.
Faktor sugesti yaitu pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik dari orang lain. Sugesti dapat diberikan dari individu kepada kelompok, Kelompok kepada kelompok dan kelompok kepada individu. Factor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya sendiri yang kemudian diterima oleh pihak lain.
Faktor identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik sama dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah. Di sini dapat mengetahui, bahwa hubungan sosial yang berlangsung pada identifikasi adalah lebih mendalam daripada hubungan yang berlangsung atas proses sugesti dan imitasi.
Faktor simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses identifikasi.
Analisis Interaksi Sosial Mahasiswa
Di lingkungan mahasiswa terdiri dari makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lainnya sehingga membentuk sebuah pergaulan yang memiliki peranan besar membentuk sebuah kepribadian suatu individu.
Interaksi sosial mahasiswa ada yang positif dan juga negatif, interaksi sosial mahasiswa yang positif yaitu menjalin kerjasama dalam membuat tugas kelompok sehingga terbentuknya interaksi sosial yang bermanfaat, sedangkan interaksi sosial mahasiswa yang negatif yaitu perkelahian antara mahasiswa.
Dalam lingkungan mahasiswa terdiri dari beberapa interaksi sosial seperti mahasiswa dengan mahasiswa seperti berbincang-bincang, mahasiswa dengan kelompok mahasiswa seperti ketika membuat tugas kuliah dan kelompok mahasiswa dengan kelompok mahasiswa seperti kegiatan kampus.
Dalam interaksi yang terjadi pada mahasiswa terdapat bentuk interaksi asosiatif dan bentuk interaksi disosiatif. Bentuk interaksi asosiatif adalah kerjasama, asimilasi, dan akomodasi. Kerjasama yaitu saat mahasiswa membuat tugas Kelompok ketika mendapatkan tugas dari dosen. Asimilasi yaitu ketika mahasiswa hmj perjurusan mengadakan kegiatan dengan jurusan lain diadakan rapat bersama sebagai upaya menyamakan tujuan untuk maju dan berkembang. Akomodasi yaitu ketika kelompok mahasiswa baik mengerjakan tugas kelompok maupun kegiatan hmj ada perselisihan antara mahasiswa maka akan ada upaya untuk meredakan pertentangan yang terjadi agar tidak terjadi kesalahpahaman, sehingga tercapai suatu persetujuan bersama, dan tidak terjadi perselisihan yang panjang. Dengan alasan tersebut, para mahasiswa berusaha mengurangi perbedaan, selalu bertukar pikiran, dan bekerjasama untuk satu padu sehingga menghasilkan inovasi baru dalam berkarya tanpa adanya perselisihan dan pertentangan.
Bentuk interaksi disosiatif adalah persaingan, pertentangan, dan kontravensi. Persaingan yang terjadi antara mahasiswa yaitu dengan berlomba-lomba mendapatkan nilai yang baik dari dosen sehingga beradu skill di dalam kelas seperti bertanya, menanggapi dan menambahkan jawaban. Setiap kelompok mahasiswa baik dalam tugas kelompok maupun kegiatan mempunyai pendapat atau ide-ide yang berbeda-beda dan biasanya bertentangan. Tetapi semua perbedaan itu dijadikan mereka sebagai tukar pikiran bersama agar dapat mecapai tujuan bersama dan bukan sebagai penghambat perkembangan mereka. Kontravensi ditandai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seorang mahasiswa, perasaan tidak suka yang disembunyikan dan kebencian terhadap kepribadian mahasiswa lain akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak sampai terjadi pertentangan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada dasarnya setiap manusia tidak bisa hidup sendiri, setiap individu akan membutuhkan individu lain dalam kehidupan sehari–hari. Antar individu akan terlibat proses interaksi sosial dalam lingkungannya, baik di rumah, sekolah, tempat kerja dan lain–lain. Interaksi merupakan hal yang paling unik yang muncul pada diri manusia. Jika seorang individu tidak dapat berinteraksi dengan baik maka individu tersebut akan cenderung individualis dan egois sehingga kepekaan dan kepedulian pada lingkungan sekitarnya pun kurang.
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain, dimana kelakuan antar individu saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya
Interaksi sosial memiliki beberapa karakteristik atau ciri-ciri. Berikut adalah ciri-ciri dalam interaksi sosial yaitu: Jumlah pelaku lebih dari satu orang, hal ini karena interaksi membutuhkan aksi dan reaksi. Jika sesorang memberikan suatu aksi atau tindakan, agar dikatakan sebagai bentuk interaksi, tindakan tersebut haruslah direspon oleh orang lain.
Gillin mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi agar suatu interaksi sosial itu terjadi, yaitu adanya kontak sosial (sosial contact) dan adanya komunikasi (communication).
Menurut Gillin, terdapat dua bentuk interaksi sosial, yatu proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif merupakan bentuk proses sosial yang mengarah kepada kerja sama antar pihak, sedangkan proses disosiatif merupakan proses sosial yang mengarah kepada pertentangan antara pihak yang terlibat. Proses asosiatif terdiri dari kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Proses disosiatif terdiri dari persaingan, kontravensi, dan konflik.
faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial, yaitu faktor imitasi, faktor sugesti, faktor identifikasi, dan faktor simpati.
Di lingkungan mahasiswa terdiri dari makhluk sosial yang berinteraksi satu sama lainnya sehingga membentuk sebuah pergaulan yang memiliki peranan besar membentuk sebuah kepribadian suatu individu.
Interaksi sosial mahasiswa ada yang positif dan juga negatif, interaksi sosial mahasiswa yang positif yaitu menjalin kerjasama dalam membuat tugas kelompok sehingga terbentuknya interaksi sosial yang bermanfaat, sedangkan interaksi sosial mahasiswa yang negatif yaitu perkelahian antara mahasiswa.
Dalam lingkungan mahasiswa terdiri dari beberapa interaksi sosial seperti mahasiswa dengan mahasiswa seperti berbincang-bincang, mahasiswa dengan kelompok mahasiswa seperti ketika membuat tugas kuliah dan kelompok mahasiswa dengan kelompok mahasiswa seperti kegiatan kampus.
DAFTAR PUSTAKA
Muslim, Asrul. 2013. Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis. Jurnal Diskursus Islam. Volume 1, Nomor 3: 485.
Setiadi EM, Hakam KA & Effendi R. 2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
Sujarwanto, Imam. 2012. Interaksi Sosial Antar Umat Beragama (Studi Kasus pada Masyarakat
Karangmalang Kedungbanteng Kabupaten Tegal). Journal of Educational Social Studies. Volume 1, Nomor 2: 62.
Syam, Nina. 2012. Sosiologi sebagai Akar Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Anwar dan Adang. 2013. Sosiologi untuk Universitas. Bandung: PT Refika Aditama.
M. Ely.Setiadi, Kolip, Usman. 2011. Pengantar Sosiologi, Jakarta: Kencana.
Wulandari, Fitri. 2013. Sosiologi. klaten: Viva Pakarindu.
Soerjono, Soekanto. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syani, Abdul. 2012. Sosiologi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Soerjono, Soekanto. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. (cetakan ke-44). JAKARTA: PT Raja Grafindo Persada
Komentar
Posting Komentar